Menanti Ajal di Ujung Parang

Lolongan yang menyayat bercampur bau anyir darah dan daging segar menjadi pemandangan nan memilukan di rumah jagal anjing di bilangan Cawang, Jakarta Timur. Saban hari puluhan anjing terpaksa harus meregang nyawa di ujung parang sang algojo.

Anjing-anjing yang “malang” itu berasal dari sejumlah tempat di Jawa Barat, antara lain Sukabumi, Cianjur, dan Bandung. Dengan mulut terikat tali plastik, kawanan anjing itu dibungkus karung dan diangkut dengan sebuah truk menempuh perjalanan sepanjang puluhan hingga ratusan kilometer.

Dalam sehari, paling tidak sekitar 100 ekor anjing masuk ke rumah jagal itu. Mereka dikumpulkan di sebuah ruang isolasi seluas 3 x 3 meter berpintu teralis besi mirip kamar tahanan. Anjing-anjing itu bersesak-sesak di ruangan yang pengap, bau kotoran, dan jarang dibersihkan itu. Tanpa air dan makanan, sehingga tak jarang ada anjing yang mati diterkam kawannya sendiri, yang tak kuat menahan lapar.

Proses pemotongan anjing sudah digelar sejak dinihari hingga pukul 10 pagi. Setiap hari enam algojo siap memotong 15-30 ekor anjing. Satu demi satu anjing-anjing itu meregang nyawa di ujung parang. Setelah darahnya dikeluarkan, bulu-bulu anjing itu kemudian dibakar dan dibersihkan.

Terakhir, tubuh anjing-anjing itu dipotong-potong. Setelah itu, setiap potongannya digantung dengan dikaitkan pada pengait besi, menunggu para pembeli datang. Menurut seorang pekerja di rumah jagal itu, setiap kilogram daging-daging tersebut dilego sekitar Rp 25-30 ribu.

TEKS & FOTO: Arnold Simanjuntak (TEMPO)

0 komentar:

Poskan Komentar